Gunung Ibu di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, kembali erupsi berulang pada Minggu (11/10/2026), mencatatkan 52 kali letusan dalam sepekan terakhir. Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Ibu melaporkan kolom abu vulkanik membumbung sekitar 800 meter di atas puncak pada erupsi pukul 07.32 WIT, disusul letusan lain di siang dan sore hari. Bagi pemilik usaha laundry di Maluku Utara dan sekitarnya, antisipasi abu vulkanik bukan sekadar kabar dari jauh — abu yang terbawa angin bisa langsung menempel di cucian, mesin, dan area jemuran Anda.
Gunung Ibu Erupsi Berulang, Status Masih Level II (Waspada)
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mempertahankan status Gunung Ibu di Level II (Waspada). Gunung setinggi 1.325 meter di atas permukaan laut ini hanya dalam pengamatan seharian 11 Oktober 2026 mencatat 97 kali gempa letusan dengan amplitudo 10 sampai 28 milimeter dan durasi 30 sampai 141 detik. Sepanjang 2026, gunung ini sudah meletus 1.692 kali, salah satu yang paling aktif di Indonesia setelah Gunung Semeru.
PVMBG meminta masyarakat dan pengunjung tidak beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif, serta menghindari zona perluasan sektoral 3,5 kilometer ke arah bukaan kawah di bagian utara. Daerah hilir sungai yang berhulu di Gunung Ibu juga diminta waspada terhadap potensi lahar ketika hujan deras turun. Bagi Anda yang punya cabang atau pelanggan di wilayah Maluku Utara, pantau terus pembaruan resmi PVMBG lewat aplikasi MAGMA Indonesia, karena status dan arah sebaran abu bisa berubah dalam hitungan jam.
Mengapa Abu Vulkanik Berbahaya bagi Usaha Laundry
Abu vulkanik berbeda dari debu biasa. Butirannya kasar, tajam, dan bersifat korosif pada logam, sehingga punya tiga dampak langsung untuk usaha laundry: pertama, abu menempel pada serat kain dan membuat cucian cepat kotor kembali meski baru dicuci. Kedua, abu yang terhisap kipas masuk ke mesin cuci dan pengering, menggerus bearing dan mempercepat kerusakan. Ketiga, abu yang jatuh ke bak penampung mengubah kualitas air seduh dan merusak hasil pencucian.
Bagi laundry yang mengandalkan jemuran terbuka, risiko paling besar ada di sana. Pakaian yang dijemur tanpa penutup akan menjadi saringan abu, sehingga pelanggan menerima cucian berdebu dan kotor — padahal itu adalah kesan buruk yang sulit dihapus. Sekali pelanggan pulang membawa cucian yang masih terasa berpasir di tangannya, ia enggan kembali, dan kabar buruk itu menyebar lebih cepat dari kabar baik.
Amankan Area Jemuran dan Ventilasi Sejak Dini
Langkah pertama adalah menutup area jemuran. Gunakan paranet, terpal, atau jaring kasa pada jemuran terbuka agar abu vulkanik tidak langsung hinggap di pakaian. Jika memungkinkan, pindahkan pengeringan ke ruang tertutup berventilasi baik selama status Waspada masih berlangsung. Jemuran yang tertutup ini terlihat sederhana, tapi menjadi garis pertahanan pertama antara cucian bersih dan abu yang berterbangan.





