Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, semakin meluas dan kini dirasakan sampai Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin Timika mencatat jarak pandang pada pagi hari sempat turun di bawah 2 kilometer, kondisi yang berpotensi menunda penerbangan pesawat berbadan besar. Bagi pelaku usaha laundry di Papua bagian selatan, kabut asap ini bukan sekadar informasi cuaca: partikel halus dari asap bisa menempel di cucian bersih, mencemari air, dan membahayakan kesehatan karyawan yang bekerja di area produksi.
Kabut Asap Merauke Menyebar hingga Mimika dan Pesisir Selatan Papua
Berdasarkan pemantauan BMKG, asap berasal dari karhutla berskala besar di Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Pola angin dari arah timur hingga tenggara membawa asap melewati pesisir selatan Papua, sehingga wilayah seperti Mimika, Asmat, hingga Kaimana di Papua Barat ikut terdampak.
Di Mimika, dampak paling nyata terlihat pada penurunan jarak pandang. Pada pagi hari, jarak pandang bisa turun di bawah 2 kilometer, jauh dari kondisi normal. Kondisi ini tidak hanya mengganggu penerbangan, tetapi juga menandakan konsentrasi partikel di udara sedang meningkat, terutama di wilayah pesisir seperti Poumako yang terpantau memiliki asap lebih pekat.
BMKG memperkirakan kabut asap masih berpotensi menyelimuti wilayah ini selama kebakaran di Merauke belum mereda dan arah angin masih bertiup dari timur. Kondisi diprediksi mulai berubah ketika pola angin monsun bergeser menjadi baratan pada akhir Oktober hingga November.
Kenapa Kabut Asap Karhutla Berbahaya untuk Usaha Laundry
Usaha laundry sangat bergantung pada dua hal: air bersih dan udara bersih untuk proses pengeringan. Kabut asap mengganggu keduanya sekaligus.
Pertama, asap mengandung partikel halus PM2.5 yang berukuran sangat kecil dan sulit disaring hanya dengan saringan biasa. Partikel ini bisa terbawa angin masuk ke area produksi dan menempel pada cucian yang baru selesai disetrika dan dilipat.
Kedua, cucian yang dijemur atau diangin-anginkan di luar ruangan saat udara penuh asap justru akan menyerap bau asap dan partikel kotor. Hasil akhirnya, pakaian yang seharusnya bersih dan wangi malah berbau asap sehingga memicu komplain pelanggan.
Ketiga, paparan asap dalam durasi lama bisa menyebabkan iritasi mata, batuk, dan sesak napas pada karyawan. Tim yang sehat adalah kunci produksi laundry tetap berjalan lancar.





