Kemarau tahun ini berjalan lebih panjang dan lebih kering dari biasanya. BMKG dalam prakiraan periode 15–21 September 2026 mencatat sekitar 81% Zona Musim di Indonesia telah memasuki kemarau, dan kekeringan terus meluas. Sebanyak 1.637 titik mengalami Hari Tanpa Hujan kategori ekstrem — tanpa hujan lebih dari 60 hari berturut-turut — di Lampung, sebagian besar Jawa, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi Selatan, Maluku, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua Selatan. El Niño masih berada di kategori sangat kuat dan diprediksi bertahan sampai awal 2027. Bagi pemilik laundry, kualitas air menurun saat musim kemarau bukan sekadar teori. Ini masalah nyata yang langsung menyentuh hasil cucian, biaya produksi, dan reputasi usaha Anda.
Kondisi Terkini: Kekeringan Meluas dan El Niño Sangat Kuat
Berdasarkan pantauan BMKG, minimnya curah hujan dipicu kombinasi musim kemarau dan El Niño kategori sangat kuat, dengan anomali suhu muka laut Niño 3.4 tercatat +2,76°C pada awal September 2026. Kondisi kering ini juga memperluas titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, dan Papua Selatan.
Dampaknya bagi usaha laundry bersifat ganda. Pertama, distribusi air PDAM di sejumlah kota mulai menerapkan giliran atau penurunan debit karena sumber air baku menyusut. Kedua, sumur dangkal yang menjadi andalan banyak laundry rumahan ikut surut, sehingga air yang tersisa lebih pekat, lebih keruh, dan lebih banyak mengandung mineral.
Kenapa Kualitas Air Menurun saat Musim Kemarau
Saat curah hujan turun drastis, debit air tanah ikut berkurang. Volume air yang mengecil membuat konsentrasi mineral terlarut — seperti zat besi, mangan, dan kapur — naik drastis. Tidak heran air sumur yang tadinya bening berubah kekuningan atau kecokelatan, berbau, dan meninggalkan kerak.
Air dengan kadar besi atau mangan tinggi akan meninggalkan noda kuning kecokelatan pada pakaian putih, membuat warna pakaian terang terlihat kusam, dan menurunkan kemampuan deterjen membusa. Kadar kapur yang tinggi membuat air menjadi berat, sehingga dosis deterjen seolah tidak cukup padahal masalahnya ada pada air, bukan pada takaran.
Dampak Air Jelek ke Hasil Cucian Laundry
Air yang menurun kualitasnya saat kemarau memicu beberapa masalah yang bisa langsung dilihat pelanggan. Pakaian putih menguning, warna memudar, kain terasa kaku, dan yang paling sering dikeluhkan adalah bau apek meski sudah dicuci. Bau ini biasanya muncul karena bilasan tidak bersih — residu deterjen dan mineral tertinggal di serat kain.


